Services

0

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan Pendidikan Islam dalam pelaksanaan proses pembelajarannya, yaitu:

  1. Pendekatan Pengalaman.

  2. Pendekatan pengalaman yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok. Pengalaman adalah pendidik tanpa jiwa, namun selam dicarai oleh siapapun juga, belajar dari pengalaman adalah lebih baik dari sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama sekali. Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik jika pendidik tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi peserta didik, kontinue dengan kehidupan peserta didik serta interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi peserta didik.

    Semakin tinggi nilai suatu pengalaman, maka semakin disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa peserta didik. Karena pengalaman dapat dijadikan sebagai suatu pendekatan dalam pendidikan, maka “pendekatan pengalaman” sebagai frase baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan. Memberi pengalaman yang edukatif kepada peserta didik berpusat kepada tujuan yang memberi arti terhadap kehidupan anak, yaitu berinteraksi dengan lingkungannya.


  3. Pendekatan Kebiasaan 

  4. Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadangkala tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individual maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari. Berawal kepada pembiasaan itulah peserta didik membiasakan dirinya menuruti perintah dan patuh kepada aturan-aturan yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat. Menanamkan tumbuhnya kebiasaan yang baik tidaklah mudah dan memakan waktu yang panjang. Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, maka akan sulit pula untuk merubahnya.


  5. Pendekatan Emosional 

  6. Ialah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan makna yang baik dan yang buruk. Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Di dalam perasaan rohaniah tercakup perasaan intelektual, perasaan estetis dan perasaan etis, perasaan sosial dan perasaan harga diri.

    Nilai perasaan pada diri manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan sekitarnya. Misal, setelah menyaksikan beragam penderitaan, penyiksaan, pembunuhan yang dialami saudara seaqidah dalam tayangan TV, maka dalam diri seseorang timbul rasa senasib sepenanggungan, rasa simpati, sedih dan sebagainya. Perasaan seiman dan seagama menjadi tali pengikat dalam kehidupan sosial keagamaan bagi setiap orang beragama, karena ia menyadari suatu kewajiban yang dibebankan oleh hukum agama yang dianutnya. Begitu juga kesadaran akan ajaran kitab suci yang menyuruh berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan keji dan munkar.

    Emosi berperan dalam pembentukan keperibadian seseorang. Untuk itu, pendekatan emosional perlu dijadikan salah satu pendekatan dalam pendidikan Islam. Metode mengajar yang digunakan dalam pendekatan emosional adalah metode ceramah, sosial drama dan bercerita (kisah).

  7. Pendekatan Rasional

  8. Pendekatan rasional adalah suatu pendekatan mempergunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakannya dengan sempurna dan berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. Perbedaan manusia dengan makhluk lain terletak pada akal. Manusia mempunyai akal, sedangkan makhluk yang lainnya (hewan dan sejenisnya) tidak mempunyai akal.

    Dengan kekuatan akalnya, manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Dengan akal yang dimilikinya, manusia dapat pula membuktikan dan membenarkan adanya Allah SWT. Walaupun disadari keterbatasan akal unutk memikirkan dan memecahkan sesuatu –terutama yang bersifat immaterial- akan tetapi dengan kekuatan akalnya manusia dapat mencapai ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Untuk itu, sudah semestinya akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran agama dan menjadikan keyakinan terhadap agama semakin kokoh. Usaha maksimal bagi pendidik dalam pendekatan rasional adalah dengan memberikan peran akal dalam memahami dan menerima kebenarana agama. Metode mengajar yang digunakan dalam pendekatan rasional yaitu tanya jawab, kerja kelompok, latihan, diskusi dan pemberian tugas.

  9. Pendekatan Fungsional

  10. Pengertian fungsional adalah usaha memberikan materi agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangannya.

    Ilmu agama yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekedar melatih otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan sosial. Dengan pendekatan agama, anak dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Sementara dengan pendekatan fungsional berarti anak dapat memanfaatkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah dapat menjadikan ajaran agama dipahami secara lebih hidup dan dinamis. Untuk melicinkan jalan ke arah itu diperlukan metode mengajar yang serasi. Dalam hal ini ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain metode latihan, ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan demontrasi.


  11. Pendekatan Ketauladanan

  12. Pendekatan ketauladanan adalah memperlihatkan ketauladanan, baik secara berlangsung melalui penciptaan kondisis pergaulan yang akrab antara personil sekolah, perilaku pendidikan dan perilaku pendidik yang mencerminkan akhlak terpuji, maupun yang tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah ketauladanan.

    Ketauladanan pendidik terhadap peserta didik dapat membawa keberhasilannya dalam memperisapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial peserta didiknya. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak yang akan dijadikan sebagai panutan dalam mengindentisifikasikan diri dalam segala aspek kehidupannya. Figur pendidik akan terpatri dalam jiwanya, perasaannya dan tercermin dalam ucapan dan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Kecenderungan manusia untuk belajar lewat peniruan menyebabkan ketauladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pendidikan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah mencontohkan dirinya sebagai pendidik yang mulia melalui ketauladanan yang diberikannya bagi umat Islam. Sebgaimana firman Allah SWT;

    “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian.” (QS. al-Ahzab: 21)

    Dalam diri Rasulullah, Allah telah menyusun bentuk metodologi pendidikan Islam yang sempurna, yaitu suatu bentuk hidup yang abadi selama sejarah berlangsung. Allah telah mengajarkan bahwa Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia adalah orang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral maupun intelektual. Untuk itu, sifat-sifat ketauladanan tersebut dapat menjadi acuan bagi umat manusia dalam membangun kepribadian yang sempurna dan kemuliaan akhlak yang terpuji.

    Dari paparan di atas, terlihat bahwa ekssitensi ketauladanan menjadi faktor penting bagi penanaman modal kepribadian seorang anak. Jika pendidik jujur, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka akan tumbuh dalam diri anak sifat kejujuran, terbentuknya akhlak mulia, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan menjauhkan diri dari jal yang bertentangan dengan agama. Namun demikian pula sebaliknya, jika pendidik menanamkan ketauladanan yang buruk seperti sifat bohong, khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina, maka secara signifikan akan berpengaruh pada kepribadian seorang anak, yaitu tumbuhnya sifat kebohongan, khianat, kikir, penakut dan hina. Dalam pendekatan ketauladanan ada beberapa metode yang dapat dipergunakan, diantaranya melalui penampilan pendidik, kepribadian pendidik, cerita dan ilustrasi yang mengandung unsur ketauladanan.


Posting Komentar

Dear readers, after reading the Content please ask for advice and to provide constructive feedback Please Write Relevant Comment with Polite Language.Your comments inspired me to continue blogging. Your opinion much more valuable to me. Thank you.